Kabupaten Bulungan Integrasikan Pembangunan Desa dengan Perhutanan Sosial

redaksi

Ads - After Post Image

Kaltaraa1.comTANJUNG SELOR – Keterlibatan pelbagai mitra dalam proses pembangunan desa menjadi prioritas bagi pemerintah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Pertemuan multipihak dengan tajuk “Penguatan Kemitraan Multipihak untuk Mewujudkan Kabupaten Bulungan yang Berdaulat Pangan, Maju dan Sejahtera, Berbasis Desa dan Kawasan Perdesaan” diadakan di Yogyakarta.

Bupati Bulungan, Syarwani bersama sepuluh pejabat teras Pemkab Bulungan merumuskan peta jalan pembangunan desa dengan para mitra strategisnya. Mitra-mitra yang kali ini berpartisipasi adalah Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Yayasan Pionir, Yayasan Institute for Research and Empowerement (IRE), dan Yayasan Nastari. Adapun hadir sebagai pembicara adalah Lurah Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi dan akademisi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

“Pertemuan ini adalah awal pembangunan berkelanjutan di Bulungan,” ujar Bupati Syarwani.

Berdasarkan pertemuan tersebut, dipaparkan bahwa Kabupaten Bulungan memiliki 74 desa yang tersebar di 1,3 juta hektare wilayah. Pada lahan seluas ini, Bulungan telah memiliki kawasan perhutanan sosial seluas 116.124,71 hektare pada tahun 2023.

Potensi dan peluang perhutanan sosial tersebut menggerakkan YKAN bersama mitranya Yayasan Pioner dan Yayasan IRE untuk mendampingi 10 desa terpilih di Bulungan. Sejak September 2022, kesepuluh desa yang berada di dalam Lanskap Kayan tersebut mendapat pendampingan pendekatan akSi Inspiratif warGA untuk Perubahan (SIGAP).

Pendekatan SIGAP diimplementasikan dalam upaya penguatan tata kelola pemerintahan desa serta tata kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), penyusunan Rencana Tata Guna Lahan (RTGL), dan pengembangan Sistem Informasi Desa (SID). Kesepuluh desa tersebut adalah Long Pelban, Long Bia, Long Peso, Long Buang, Naha Aya,Long Bang, Long Bang Hulu, Long Beluah, Long Sam, Antutan.

Desa-desa di Kabupaten Bulungan merupakan desa yang berada di bentang alam daerah aliran sungai (DAS) Sungai Kayan, mulai dari hulu, yakni Desa Pelban, hingga desa yang berada di kawasan hilir, yakni Antutan.

Pada tahapan pertama pendampingan yang berakhir pada April 2023, memunculkan sejumlah catatan. Di antaranya, perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik dari aparat pemerintahan desa maupun masyarakat, belum adanya kolaborasi antardesa dengan kesamaan potensi, hingga jejaring kemitraan pemasaran produk lokal.

Pertemuan ini diharapkan menghasilkan peta jalan pembangunan berkelanjutan berbasis perdesaan. Pembelajaran dari wilayah yang sudah mendapatkan berbagai gelar internasional dan nasional ini diharapkan dapat menginspirasi dan memperkuat kapasitas aparat pemerintah kabupaten Bulungan.

Peluang pembangunan berkelanjutan berbasis perdesaan sudah dibuka lebar oleh pemerintah pusat melalui Pengembangan Wilayah Terpadu (PWT) atau Integrated Area Development. Kabupaten Bulungan memiliki perhutanan sosial yang berpotensi besar dikelola dengan skema PWT.

“Hari ini adalah awal mula langkah strategis dalam berkolaborasi secara pentaheliks dalam memikirkan dan menyukseskan masa depan Bulungan,”ujar Manajer Senior Program Terestrial YKAN, Niel Makinuddin.

Niel melanjutkan bahwa semangat kolaborasi pentaheliks ini sejatinya memiliki akar kultural kuat di masyarakat Bulungan yang sering dikenal memiliki prinsip tenguyun (yakni bekerja sama, gotong royong untuk kepentingan dan kebaikan masyarakat luas).

Pentaheliks, Niel melanjutkan, adalah lima pemangku kepentingan yang mewakili pemerintah, mitra pembangunan, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha. YKAN mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis kewilayahan, sehingga bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan, mereka yang menjaga, mereka pula yang akan sejahtera

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Tinggalkan komentar