Kaltara a1. Com, TANJUNG SELOR – Kualitas udara di Kabupaten Bulungan mencapai angka 151,3 berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat, sehingga sejumlah sekolah di wilayah terdampak mulai menerapkan pembelajaran dari rumah (BDR).
Salah satunya adalah SMP Negeri 1 Tanjung Selor. Kebijakan BDR dilakukan sebagai langkah untuk melindungi peserta didik dari dampak buruk asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan hasil evaluasi kondisi ISPU dan pengamatan di sejumlah wilayah, kondisi udara dinilai sangat tidak sehat akibat karhutla. Pemerintah daerah kemudian mengarahkan satuan pendidikan di wilayah terdampak untuk menyesuaikan kegiatan belajar, termasuk melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau BDR.
Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Kecamatan Tanjung Selor, Tanjung Palas Timur, Tanjung Palas Utara, dan Bunyu.
Anggota DPRD Bulungan, Rozana Bin Serang, mendukung penerapan BDR di tengah kondisi udara yang kurang sehat. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi perhatian utama.
“Suka tidak suka harus BDR. Kondisinya seperti ini, kasihan anak-anak kalau tetap sekolah, bisa terkena ISPA,” ujar Rozana kepada Kaltaraa1.com, Kamis (17/8)
Ia mengaku mendapat informasi mengenai kondisi tersebut dari guru anaknya. Bahkan, ia menyebut sempat melihat anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan dan harus mendapatkan perawatan.
“Tadi dari rumah sakit ada anak-anak yang sakit sesak. Tadi pagi saja saya kaget,” katanya.
Rozana berharap pelaksanaan BDR tetap mengikuti arahan pemerintah daerah. Menurutnya, meski belajar dari rumah, proses pendidikan tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan kesehatan peserta didik.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan, Suparmin, mengatakan kebijakan BDR diberlakukan sementara bagi sekolah-sekolah di kecamatan yang terdampak karhutla.
“Ini berlaku sampai 18–19 September,” kata Suparmin.
Ia juga meminta satuan pendidikan yang menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk segera berkoordinasi dan menyampaikan informasi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penerapan BDR diharapkan dapat menjadi langkah sementara untuk mengurangi paparan asap kepada anak-anak selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat. (adv/Erc)





