Kaltara a1. Com, TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan terus memperkuat sektor pertanian dan perkebunan sebagai penopang utama ketahanan pangan dan ekonomi daerah. Upaya tersebut ditunjukkan melalui peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi serta pengembangan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Bulungan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Kristiyanto, S.P., M.T., menjelaskan bahwa peningkatan LTT padi sawah dan padi gogo merupakan bagian dari strategi besar menuju swasembada pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Program ini dijalankan melalui akselerasi intensifikasi pertanian berbasis good agriculture practices (GAP), optimalisasi lahan (oplah), serta ekstensifikasi lahan dengan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan penguatan kelembagaan petani.
“Bulungan memiliki potensi lahan yang sangat besar. Lahan sawah yang telah ditetapkan dalam LP2B mencapai 5.100 hektare, cadangan KP2B sekitar 12.000 hektare, serta potensi lahan tanaman pangan hingga kurang lebih 32.000 hektare,” ujar Kristiyanto saat pemaparan perkembangan sektor pertanian di Tarakan, 6 Desember 2025.
Sepanjang 2025, capaian LTT padi sawah reguler tercatat seluas 1.488,66 hektare yang terpusat di Kecamatan Tanjung Palas, sementara LTT oplah mencapai 2.081,60 hektare. Secara kumulatif, LTT reguler dan oplah hingga November 2025 mencapai 3.570,25 hektare atau meningkat 40,29 persen dibandingkan tahun 2024 yang seluas 2.132,25 hektare.
Sementara itu, LTT padi gogo tahun 2025 mencapai 4.054,50 hektare yang tersebar di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Tanjung Palas Barat, Peso Hilir, dan Peso. Angka tersebut melampaui target 2025 sebesar 3.000 hektare atau tercapai 135,13 persen, sekaligus meningkat 13,54 persen dibandingkan capaian tahun 2024.
Dengan demikian, total LTT padi sawah reguler, oplah, dan padi gogo di Kabupaten Bulungan pada 2025 mencapai 7.630,75 hektare, menjadi indikator kuat peningkatan produksi pangan daerah.
Di sektor perkebunan, kelapa sawit masih menjadi komoditas unggulan yang berperan strategis dalam pembangunan ekonomi Bulungan. Kontribusi kelapa sawit mencapai 64 persen dari subsektor perkebunan dan menyerap ribuan tenaga kerja. Pada 2025, luas tanam kelapa sawit mencapai 78.057,49 hektare, yang terdiri atas perkebunan besar swasta (PBS) seluas 72.595,49 hektare dan perkebunan rakyat (PBR) seluas 5.462 hektare.
Produksi kelapa sawit pada tahun yang sama tercatat sebesar 538.065,52 ton, dengan kontribusi PBS sebesar 529.608,52 ton dan PBR sebesar 8.457 ton. Dengan asumsi harga tandan buah segar (TBS) Rp2.500 per kilogram, nilai produksi sawit dari PBS diperkirakan mencapai Rp1,34 triliun, sedangkan PBR sekitar Rp21,14 miliar.
Meski demikian, pemerintah daerah mengakui masih terdapat sejumlah kendala dan tantangan, antara lain keterbatasan sarana produksi, persoalan legalitas lahan, rendahnya produktivitas pekebun, serta keterbatasan sumber daya manusia dalam mendukung penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dan sertifikasi ISPO pekebun.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bulungan telah menyusun Grand Desain Pertanian Bulungan 2025–2030 dan Rencana Aksi Daerah Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan 2024-2030. Fokus kebijakan meliputi penguatan data dan koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas pekebun, pengelolaan lingkungan, tata kelola perkebunan, serta percepatan sertifikasi ISPO dan akses pasar.
Pada 2026, pemerintah daerah menargetkan penerbitan STDB sebanyak 350 unit serta pengembangan perkebunan baru, meliputi kakao 250 hektare, kopi 100 hektare, kelapa dalam 150 hektare, dan kelapa sawit 300 hektare. Selain itu, fasilitasi percepatan kadasteral IUP perkebunan besar swasta seluas 107.088 hektare juga terus didorong.
“Perkebunan dan pertanian bukan semata soal hasil panen, tetapi tentang keberlanjutan, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan. Itulah arah pembangunan pertanian Bulungan ke depan,” pungkas Kristiyanto. (Fhrl/Adv)





