Sekda Bulungan : NGO Jadi Mitra Strategis Daerah

redaksi

Ads - After Post Image

Kaltaraa1.comTANJUNG SELOR – Kabupaten Bulungan mengundang perhatian mata nasional bahkan internasional dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini dilatarbelakangi wilayah Bulungan sebagai lokasi kantor pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dan sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bulungan, Risdianto, saat ditemui di rumah jabatan belum lama ini, mengatakan, Bulungan memiliki posisi tawar lebih karena dianggap sangat strategis, baik secara nasional maupun internasional.


Dalam wilayah administrasi, Bulungan miliki dua proyek strategis nasional skala besar. Yaitu Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Tanah Kuning yang diproyeksikan menarik investasi sekitar USD132 Miliar.
Bulungan juga memiliki potensi sumber daya air yang luar besar berupa Sungai Kayan. Nantinya dimanfaatkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 9000 Megawatt (MW) yang berada di wilayah Peso.


“Demi mendukung keberadaan megaproyek raksasa tersebut, Pemkab juga telah memetakan klaster wilayah Bulungan, yang nantinya menjadi wilayah perkotaan, industri, pertanian dan yang paling penting adalah kawasan konservasi,”ungkapnya.


Dalam mendukung terlaksananya 15 program prioritas Bulungan, Pemkab Bulungan juga telah menjalin kerja sama dengan Non Governmental Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nonprofit yang bergerak di bidang kemaslahatan sipil dan lingkungan. Organisasi tersebut dirangkul menjadi mitra strategis daerah.


“Kita telah berkolaborasi dengan NGO lingkungan, dimana mereka bisa menarik pendanaan internasional untuk pembinaan masyarakat asli di sekitar kawasan hutan konservasi, agar tetap memiliki ruang akses, baik secara sosial ekonomi tanpa harus merusak hutan,”terangnya.


Pemkab Bulungan memfasilitasi NGO untuk melaksanakan visi dan misi mereka di wilayah Bulungan dengan pendanaan internasional, tanpa sedikitpun membebani keuangan daerah. Masyarakat Bulungan mendapat manfaat pembinaan dalam upaya hidup selaras dengan hutan. Hal tersebut adalah kerja sama saling menguntungkan atau simbisosis mutualisme.
Terpisah, Manager Perlindungan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Taufiq Hidayat mengatakan, pihaknya saat ini sedang membersamai semangat Kabupaten Bulungan dengan visi-misi dan termasuk 15 program prioritasnya.


“Setelah kami cermati, ada 9 program prioritas yang langsung menyentuh masyarakat bernuansa hijau. Di antaranya mandau tani, pariwisata berbasis kearifan lokal, satu desa satu produk dan lainnya,” papar Taufiq.


YKAN melihat konteks Bulungan menjadi menarik, selain jadi pusat pemerintah provinsi, Bulungan memiliki PSN KIHI Tanah Kuning dan PLTA Kayan. Hal tersebut diakui menjadi problematik bagi YKAN yang bergerak di bidang konservasi.
Meski demikian, pola yang YKAN terapkan bukan konservasi fasis, namun konservasi populis YANG bersentuhan langsung dengan masyarakat seluruhnya. Dengan melihat konstelasi Bulungan yang memiliki Landscape Kayan cukup besar seluas 660 ribu hektar dari Desa Pejalin hingga Long Peleban.


“Di dalam landscape Kayan seluas 660 ribu hektare ada masyarakat yang masih hidup bersama alamnya. Sehingga penekanan program kita banyak disana,”ulasnya.
Ada beberapa yang akan YKAN lakukan, terutama memastikan ada pengelolaan sumber daya alam (SDA) berbasis masyarakat. Program tersebut diharap selaras dengan 15 program prioritas Bulungan.


“Termasuk pengelolaan perhutanan sosial, makanya kita dengan KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Tarakan dan Bulungan mendorong perhutanan sosial diseluruh Landscape Kayan,”tegasnya.


Kehadiran status Perhutanan Sosial akan membuat suku asli yang mendiami wilayah Landscape Kayan memiliki akses ruang atau wilayah kelolanya terhadap hutan.
“Jangan sampai orang suku asli kehilangan akses atas ruang kelola tersebut, sehingga kita secara problematik mendorong itu, dan kita mengajak banyak pihak ayo membantu Bulungan,”katanya.
Langkah awal yang dilakukan dengan membentuk Landscape Kayan Integreted Area Development (LKIAD) berbasis perhutanan sosial.


“Itu gagasan besarnya, kita melihat Bulungan itu nantinya terbagi menjadi tiga klaster besar, yaitu klaster perkotaan di Tanjung Selor, perdagangan jasa dan industri, kawasan pesisir Salimbatu sampai Sekatak, terakhir adalah Landscape Kayan,”urainya.
Sejauh ini dari 74 desa yang ada di Bulungan, sudah ada 18 desa yang dibina YKAN untuk meningkatkan kapasitas desa. Salah satunya setiap desa harus memiliki dokumen tata ruang.
“Dengan adanya tata ruang, jelas ruang pengembangan, ekonomi, pertanianya, wilayah perlindungan, pemukiman maupun pengembanganya,”pungkasnya

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Tinggalkan komentar