Kaltara a1. Com, TANJUNG SELOR — Pemandangan anak-anak di bawah umur yang berjualan hingga malam hari di kawasan Tepian Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, mulai mendapat perhatian serius dari DPRD Bulungan.
Ketua Komisi I DPRD Bulungan, Rozana Bin Serang, mengaku beberapa kali melihat langsung anak-anak yang masih berusia sekolah berjualan di kawasan tersebut hingga malam hari.
Menurut Rozana, kondisi itu cukup memprihatinkan. Anak-anak yang seharusnya memiliki waktu untuk belajar, beristirahat dan bermain sesuai usianya, justru harus menghabiskan waktu malam dengan berjualan.
“Saya sering juga ketemu mereka. Kadang-kadang saya juga memberikan mereka uang kalau mereka lewat,” ungkap Rozana, Selasa (1/9).
Rozana mengatakan, setiap kali bertemu dengan anak-anak tersebut, dirinya berusaha berkomunikasi dan menanyakan kegiatan mereka. Dari perbincangan itu, ia mengetahui bahwa sebagian anak yang berjualan ternyata masih berstatus sebagai pelajar.
“Sempat saya tanyakan juga, rupanya mereka masih bersekolah,” katanya.
Kondisi tersebut membuat Rozana khawatir. Sebab, aktivitas berjualan hingga malam hari berpotensi membuat anak-anak kehilangan waktu istirahat yang cukup.
Apalagi, keesokan harinya mereka tetap harus bangun dan mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, bukan tidak mungkin konsentrasi anak dalam mengikuti pelajaran ikut terganggu.
“Kalau anak masih bersekolah, kemudian malamnya harus berjualan, tentu ini bisa mengurangi kefokusan mereka dalam belajar,” jelasnya.
Namun, Rozana mengatakan persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Ia memahami bahwa ada kemungkinan anak-anak tersebut membantu orang tua karena kondisi ekonomi keluarga.
Karena itu, menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya memberikan larangan. Perlu ada pendekatan yang lebih manusiawi dengan melihat latar belakang masing-masing keluarga.
“Kita juga tidak bisa langsung melarang karena kita harus melihat kondisi keuangan keluarganya. Namun, melihat kondisi tersebut, rasanya tidak pantas anak yang masih di bawah umur harus melakukan hal seperti itu,” ujarnya.
Rozana menilai, anak-anak tetap harus mendapatkan haknya untuk belajar, beristirahat dan tumbuh sesuai dengan usia mereka. Di sisi lain, keluarga yang memang membutuhkan tambahan penghasilan juga perlu mendapatkan perhatian dan solusi dari pemerintah.
Menurutnya, persoalan ini tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab orang tua. Legislatif dan pemerintah daerah juga perlu hadir untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
Komisi I DPRD Bulungan, kata Rozana, akan menjadikan persoalan tersebut sebagai salah satu perhatian untuk dibicarakan bersama pemerintah daerah.
“Ini menjadi atensi kami dari Komisi I untuk dibicarakan dengan pemerintah daerah,” tegas Rozana.
Ia berharap ke depan ada langkah nyata yang dapat dilakukan, baik melalui pendataan, pendekatan kepada keluarga maupun program bantuan yang dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Dengan demikian, anak-anak yang selama ini ikut berjualan hingga malam hari tidak harus kehilangan waktu belajar dan istirahat mereka.
Bagi Rozana, persoalan ini bukan semata-mata tentang anak yang berjualan di pinggir jalan, tetapi juga tentang bagaimana pemerintah memastikan setiap anak di Bulungan dapat tumbuh dengan layak tanpa harus terbebani persoalan ekonomi keluarga.
Perhatian terhadap anak, menurutnya, harus menjadi kepentingan bersama. Pemerintah, DPRD, orang tua dan masyarakat perlu mengambil peran agar anak-anak tetap mendapatkan kesempatan belajar dan tumbuh secara sehat, sementara kebutuhan ekonomi keluarga juga tidak diabaikan. (Adv/Erc)





