Kaltara a1. Com, TANJUNG SELOR – Tantangan geografis wilayah perbatasan tidak menyurutkan langkah Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malinau untuk memperkuat benteng pelayanan kemanusiaan. Di bawah kepemimpinan Dr. Ernes Silvanus untuk masa bakti 2026–2031, penguatan Unit Transfusi Darah (UTD) serta kelengkapan sarana-prasarana markas resmi ditetapkan sebagai prioritas mendesak.
Langkah taktis ini diambil mengingat aksesibilitas wilayah Malinau yang sangat luas dan sebagian besar kawasan pedalaman—seperti Apau Kayan—masih sangat bergantung pada moda transportasi udara dengan waktu tempuh hingga 1,5 jam. Keterbatasan akses tersebut menuntut fasilitas kesehatan dan ketersediaan stok darah lokal berada dalam kondisi siap siaga sepanjang waktu.
Usai resmi dilantik oleh Ketua PMI Kaltara, Ernes menegaskan bahwa jajarannya tidak akan mengulur waktu dan langsung tancap gas merealisasikan target organisasi.
”Setelah pelantikan ini, kami akan langsung bergerak cepat,” kata Ernes.
”Prioritas kami sekarang ini adalah markas PMI yang harus dilengkapi sarana-prasarananya. Begitu juga dengan unit transfusi darah, karena ini sangat penting dan vital bagi kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Tak hanya berfokus pada infrastruktur kesehatan dan ketersediaan darah, PMI Malinau juga memperluas jangkauan pelayanannya ke sektor mitigasi bencana serta pencegahan masalah sosial di kalangan generasi muda. Sinergi erat dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis bakal diperketat guna mendeteksi dini berbagai potensi kerawanan.
”Pembinaan generasi muda turut menjadi perhatian, termasuk upaya pencegahan perjudian daring, penyalahgunaan narkoba serta penyebaran paham radikal melalui pendekatan kemanusiaan dan edukasi,” tambah Ernes.
Di sisi lain, Pengurus Provinsi PMI Kaltara mengapresiasi rekam jejak kepengurusan PMI Malinau yang dinilai konsisten menunjukkan kinerja positif berdasarkan evaluasi berkala. Ketua PMI Kaltara, Ir. H. Risdianto, mengingatkan pentingnya memegang teguh tujuh prinsip dasar PMI di tengah dinamika persoalan kesehatan global.
“Kita di PMI memiliki tujuh prinsip yang harus dilaksanakan. Dengan kondisi global sekarang ini, kita harus siaga terhadap bencana, termasuk persoalan kesehatan seperti HIV/AIDS, tuberkulosis dan malaria,” ujar Risdianto. (*/Hai)





