Kaltaraa1.comTANJUNG SELOR – Kisah tak biasa terjadi di Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 0903/Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu (14/10/2026). Seorang pria bernama Galang Gaustullah, 32, mendatangi markas TNI dengan keinginan menjadi tentara. Namun, situasi berubah menegangkan setelah ia mengamuk sambil membawa mandau di Jalan Kolonel Soetadji.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Galang datang ke Makodim sekitar pukul 08.00 Wita untuk bersilaturahmi. Di saat bersamaan, pihak kesehatan, Dinas Sosial, dan keluarganya berupaya menemuinya untuk memberikan penanganan medis berupa suntikan.
Berdasarkan laporan kejadian, Galang datang ke Makodim sekitar pukul 08.00 Wita. Ia sempat meninggalkan markas dengan alasan hendak menarik uang di bank. Sekitar pukul 11.00 Wita, ia kembali. Tak lama kemudian, suasana berubah ketika Galang membawa mandau yang merupakan cendera mata dari aula Kodim dan mengamuk di jalan depan markas.
Anggota Kodim 0903/Bulungan pun bergerak menangani situasi agar tidak membahayakan Galang maupun masyarakat yang melintas di Jalan Kolonel Soetadji.
Sekitar pukul 11.30 Wita, Galang berhasil diarahkan masuk ke halaman Kodim. Di tengah situasi tersebut, ia meminta mengenakan pakaian dinas lapangan (PDL), kemudian memberi hormat kepada bendera Merah Putih dan anggota TNI.
Mandau yang sebelumnya dibawanya akhirnya diserahkan kepada anggota Kodim. Sekitar pukul 11.35 Wita, situasi berhasil dikendalikan dengan aman.
Kisah Galang menyisakan sisi kemanusiaan di balik peristiwa yang sempat menegangkan. Keinginannya mengenakan seragam loreng dan memberi hormat menjadi momen yang mengundang perhatian.
Namun, di balik kisah tersebut, Galang membutuhkan perhatian dan pendampingan yang tepat. Berdasarkan laporan, ia telah mengalami gangguan kesehatan jiwa selama sekitar delapan tahun dan pernah menjalani rehabilitasi di Berau.
Pihak keluarga bersama petugas kesehatan dan Dinas Sosial berencana melanjutkan penanganan medis, termasuk rencana membawa Galang ke Tarakan untuk mendapatkan perawatan rehabilitasi.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa di balik perilaku yang sulit dipahami, seseorang tetap membutuhkan pertolongan, bukan cemoohan.
Sebab, seragam loreng mungkin menjadi impian Galang, tetapi keselamatan, pemulihan, dan dukungan kemanusiaan adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini.





