Mengenal Para Pemimpin Kabupaten Bulungan

redaksi

Ads - After Post Image

Kaltaraa1.comTANJUNG SELOR – Daftar riwayat pemimpin daerah menjadi salah satu materi sejarah Kabupaten Bulungan yang dibacakan pada Rapat Paripurna Istimewa menjelang hari jadi setiap tahunnya.
Media menghimpun dan meringkas perjalanan daftar pemimpin daerah yang dibacakan dalam rapat paripurna istimewa kemarin. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1955, wilayah Kesultanan Bulungan ditetapkan sebagai daerah istimewa, saat itulah Sultan Maulana Djalaluddin menjadi Kepala Daerah Bulungan pertama sampai akhir hayatnya di tahun 1958.


Pada tahun 1959 status daerah istimewa ditetapkan lagi menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Bulungan berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 1959. Bupati Kepala Daerah yang pertama adalah Andi Tjatjo Datuk Wihardja pada tahun 1960 hingga tahun 1963.
Setelah Andi Tjatjo Datuk Wihardja, Damus Managing Frans memimpin Kabupaten Bulungan pada tahun 1963 sampai dengan tahun 1964. E. N. Zakaria Mastrunodjoyo memimpin dari tahun 1964 sampai dengan tahun 1965. H. Asnawi Arbain menjabat sebagai Bupati Bulungan dari tahun 1967 sampai dengan tahun 1972. Dia menjadi perintis pembangunan di Kabupaten Bulungan, terutama pembangunan mental dan spiritual.


Selanjutnya, Kolonel H. Soetadji menjadi Bupati Bulungan yang pertama memimpin selama 2 periode, yaitu pada periode tahun 1972 – 1977 dan periode tahun 1977 – 1985. Pada masa kepemimpinannya, beliau memperluas tata kota dengan membuka jalan SKIP II yang kemudian diabadikan dengan nama beliau, sehingga berganti nama menjadi Jalan Kolonel H. Soetadji.
Sularsono menjadi Bupati Bulungan dari tahun 1985 sampai dengan tahun 1990. Dia meneruskan pembangunan yang telah dirintis sebelumnya oleh Kolonel H. Soetadji. Yakni dengan membangun gedung-gedung perkantoran di daerah SKIP II, salah satunya ialah gedung DPRD Kabupaten Bulungan.


Kolonel H. Yusuf Dali memimpin Kabupaten Bulungan dari tahun 1990 sampai dengan 1995, Kolonel H. Yusuf Dali semakin memperindah wajah Kabupaten Bulungan dengan pembangunan infrastruktur. Pada masa kepemimpinannya, Kabupaten Bulungan menerima penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha.


Kolonel R. A Bessing memimpin dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2000. Kolonel R.A. Bessing mencatat sejarah baru Kabupaten Bulungan dengan tejadinya pemekaran 3 daerah yaitu, Kotamadya Tarakan, Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan.
Pemekaran tersebut merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab beliau sebagai kepala daerah dalam usaha untuk mempercepat pembangunan di tiga daerah pemekaran, juga sebagai usaha mendekatkan pelayanan kepada masyarakat di daerah-daerah pelosok demi tercapainya kesejahteraan.


H. Anang Dachlan Djauhari Dan Drs. Henry Edom memimpin Kabupaten Bulungan tahun 2000 sampai dengan 2005. Duet keduanya menghadapi tantangan yang tidak ringan seiring dengan bergulirnya otonomi daerah sebagai dampak reformasi yang terjadi.
Dengan tekad yang kuat dan kerja keras keduanya, pembangunan di Kabupaten Bulungan mengalami kemajuan yang signifikan dan menggembirakan, Ini terlihat dari pembangunan infrastruktur yang semakin massif, diantaranya pelabuhan dagang, pasar induk, dan gedung baru kantor Bupati Bulungan di Jalan Jelarai Raya.
Drs. H. Abdussamad, M.Si merupakan Penjabat Bupati Bulungan tahun 2005. Dia menorehkan sejarah baru dalam kepemipinan di Kabupaten Bulungan karena untuk pertama kalinya pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat
Drs. H. Budiman Arifin, M.Si Dan Dr. Drs. Liet Ingai, M.Si menjabat selama dua periode. Periode pertama tahun 2005-2010 dan periode kedua tahun 2010-2015. Keduanya merupakan sosok putra-putra terbaik Kabupaten Bulungan sebagai Bupati dan Wakil Bupati yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat untuk memimpin Kabupaten Bulungan.


Dimasa pemerintahannya terjadi pemekaran Kabupaten Tana Tidung sebagai daerah otonomi baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2007 tentang Pemekaran Kabupaten Tana Tidung. Keduanya pun berperan dalam proses terbentuknya Provinsi Kalimantan Utara yang menjadi impian masyarakat Kalimantan bagian utara.


Pada era pemerintahan mereka dilakukan groundbreaking PLTA Sungai Kayan, pengembangan kawasan Food Estate, pembentukan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dan sejumlah pembangunan lainnya.
H Syaiful Herman, MAP dilantik sebagai Penjabat Bupati Bulungan selama periode 1 September 2015 sampai 16 Februari 2016. Selama menjabat Pj Bupati, dia berjasa mengantarkan pilkada langsung yang berjalan aman, lancar serta demokratis.


H. Sudjati, SH Dan Ingkong Ala, SE, M.Si memimpin Kabupaten Bulungan sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode 2016 – 2021 melalui kontestasi pilkada. Keduanya memiliki visi Mewujudkan Kabupaten Bulungan sebagai Pusat Pangan Berbasis Industri. Dalam mewujudkan visi tersebut, Kabupaten Bulungan membuka kawasan pertanian, meningkatkan produksi pertanian serta kerjasama antar daerah dalam program transmigrasi.
Pada awal Desember 2020, jajaran Pemerintah Kabupaten Bulungan dan segenap masyarakat berduka dengan meninggalnya H Sudjati, SH. Tampuk kepemimpinan pun dilanjutkan wakilnya, Ingkong Ala, SE, M.Si sebagai Plt Bupati Bulungan yang kemudian juga secara resmi dilantik menjadi Bupati Bulungan sisa masa jabatan 2016 – 2021 sejak Desember 2020 hingga berakhir pada 17 Februari 2021.

Selanjutnya, kepemimpinan dilanjutkan dan diemban oleh Sekretaris Daerah, Drs H Syafril sebagai Plh Bupati Bulungan.
Syarwani, S.Pd, M.Si Dan Ingkong Ala, SE, M.Si adalah Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bulungan periode 2021 – 2024. Syarwani sebelumnya menjabat Ketua DPRD Kabupaten Bulungan selama 2 periode.
Kepemimpinan Syarwani dan Ingkong Ala di tahun pertama memiliki visi Mewujudkan Kabupaten Bulungan yang Berdaulat Pangan, Maju dan Sejahtera sebagai kelanjutan dari visi kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bulungan periode sebelumnya.
Terdapat 5 misi dan 15 program prioritas yang dilaksanakan dalam masa kepemimpinan Syarwani dan Ingkong Ala, antara lain mewujudkan kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memantapkan infrastruktur, program Satu Desa Satu Produksi, Desa Pintar Desa Digital, Kredit Masyarakat Ekonomi Sejahtera, Ekowisata Berbasis Kearifan Lokal serta berbagai program inovasi lainnya.(ag)

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Tinggalkan komentar