Pemahaman Stunting Dimasifkan di Kalangan Pelajar

redaksi

Ads - After Post Image

TANJUNG SELOR – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Bulungan telah menggelar seminar pencegahan stunting dan pengembangan potensi pola tumbuh kembang anak di Tanjung Selor.
Ketua DWP Bulungan, Lenny Marlina mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya percepatan penurunan stunting menuju Indonesia Emas 2045, sekaligus mendukung salah satu misi pembangunan di Kabupaten Bulungan yaitu meningkatkan kualitas SDM yang sehat, cerdas, berkarakter dan berdaya saing.
“Kami berupaya menyampaikan perihal dampak pernikahan dini terhadap stunting. Pesertanya memang kita sasar pelajar SMP, siswa SMA dan mahasiswa,” kata Lenny, Senin (20/11).
Dia memaparkan, angka prevalensi stunting di Bulungan tahun 2022 di angka 18,9 persen, kemudian hingga Agustus 2023 di angka 16 persen, sedangkan target nasional di tahun 2024 yaitu di angka 14 persen.
“Meski angka prevalensi stunting di Bulungan lebih baik dibanding angka di tingkat provinsi maupun kabupaten kota se-Kalimantan Utara, namun semua pihak harus terus berupaya melakukan percepatan penurunan stunting,” paparnya.
Penurunan stunting jangka panjang juga dilakukan dengan memberikan pengetahuan, wawasan serta pemahaman kepada generasi muda, khususnya calon pasangan usia subur atau calon pengantin. Pemerintah berupaya mewujudkan transformasi pernikahan dini untuk mewujudkan generasi muda yang sehat dan berkualitas,” terangnya.
Secara umum, ada tiga titik upaya pencegahan stunting yang harus dimengerti masyarakat sejak dini. Dimulai dari pengetahuan calon pasangan usia subur atau calon pengantin tentang anak yang sehat lahir dari ibu yang sehat.
Kemudian, menghindari anemia saat memasuki masa kehamilan. Penting dipahami bahwa anemia saat hamil dapat meningkatkan resiko bayi lahir prematur dan bayi berat badan lahir rendah, di mana kedua kondisi itu sangat erat kaitannya dengan stunting.
Kemudian, masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah hal yang begitu krusial dan menentukan masa depan anak. Rentang waktu tersebut dimulai sejak proses pembuahan dalam kehamilan sampai perkembangan fisik dan kognitif sampai anak berusia dua tahun.
“Menjaga 1.000 HPK bisa menghadirkan kesempatan untuk mewujudkan masa depan anak yang sehat dan cerah serta bebas stunting. Oleh sebab itu, saya berpesan, kepada adik-adik yang sudah remaja, para calon pengantin dan pasangan yang hendak memiliki anak, harus benar-benar memahami cara-cara mencegah stunting,” pungkasnya

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Tinggalkan komentar