Penggunaan Gadget Berlebihan Picu Meningkatnya Kasus Gangguan Refraksi pada Anak dan Remaja

redaksi

TARAKAN – Keluhan gangguan penglihatan kini semakin sering dialami masyarakat, terutama pada anak dan remaja. Kondisi yang paling banyak ditemukan adalah gangguan refraksi seperti rabun jauh (miopi), mata silinder (astigmatisme), hingga kesulitan melihat objek jarak dekat pada usia di atas 40 tahun (presbiopi).

Dokter Spesialis Mata RSUD dr. H. Jusuf, SK, dr. Ni Putu Ngurah Sri Yuliastini Sj, Sp.M, M.Biomed menjelaskan gangguan refraksi terjadi ketika cahaya tidak jatuh tepat pada retina mata sehingga objek tampak kabur atau berbayang.

“Penyebab gangguan refraksi secara umum dipengaruhi faktor anatomi mata, genetik, dan gaya hidup, termasuk penggunaan gawai dalam durasi yang panjang,” ujarnya, Rabu (6/11/2025).

Menurut dr. Yuliastini, faktor keturunan berperan besar. Anak dengan orang tua yang memiliki riwayat miopi atau astigmatisme berisiko tinggi mengalami kondisi serupa. Namun, kini peningkatan kasus lebih banyak dipicu kebiasaan buruk dalam penggunaan gadget.

Baca Juga  DPRD Kaltara Akan Analisa Penyebab Nominal Silpa 2023

Screen Time Berlebihan Tingkatkan Miopi pada Usia Muda

Penggunaan ponsel atau tablet dalam waktu lama menyebabkan otot mata terus bekerja untuk fokus pada jarak dekat. Kebiasaan ini dapat memicu pemanjangan bola mata yang berujung rabun jauh.

“Jika miopi terjadi pada usia anak-anak, minus mata biasanya terus bertambah seiring pertumbuhan. Dalam jangka panjang, miopi berat bisa meningkatkan risiko glaukoma hingga ablasi retina,” jelasnya.

Selain rabun jauh, anak juga berisiko mengalami strabismus akuisita atau mata juling akibat fokus jarak dekat yang berlebihan.

Computer Vision Syndrome Mengintai Pengguna Gadget

Screen time berkepanjangan tak hanya menyebabkan miopi, tetapi juga memicu gejala akut seperti:

  • Mata lelah dan sakit kepala
  • Penglihatan buram sementara
  • Mata kering akibat frekuensi kedipan berkurang drastis
  • Gangguan tidur akibat paparan cahaya biru
Baca Juga  Desakan Pleno Perluasan KNPI Nunukan, ICMI Muda Dukung Kepengurusan Versi Riano Panjaitan

Kebiasaan membaca atau bermain gawai sambil berbaring juga dapat memperparah keluhan silinder.

Minim Aktivitas Luar Ruangan Perburuk Kondisi Penglihatan Anak

Kurangnya paparan sinar matahari alami turut meningkatkan risiko miopi.
“Aktivitas luar ruangan minimal dua jam per hari sangat dianjurkan untuk anak,” ucap dr. Yuliastini.

Penelitian menunjukkan sinar matahari membantu mengatur pertumbuhan bola mata sehingga mencegah minus bertambah.

Ditekankan Pemeriksaan Mata Rutin Sejak Dini

dr. Yuliastini menegaskan pentingnya skrining mata untuk deteksi dini.

“Banyak penyakit mata berkembang tanpa gejala. Pemeriksaan rutin setiap satu sampai dua tahun sangat dianjurkan, terutama bagi anak, remaja, dan usia 40 tahun ke atas,” katanya.

Baca Juga  HILANG : Barang Bukti BBM Tangkapan Polda Kaltara Diduga Dicuri,?

Pemeriksaan mata juga dapat mengidentifikasi penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi melalui gambaran pembuluh darah retina.

Ini Cara Menjaga Kesehatan Mata dari Kebiasaan Digital

dr. Yuliastini membagikan tips pencegahan sederhana yang dapat diterapkan setiap hari:

  • Terapkan aturan 20-20-20 (20 menit menatap layar → lihat objek 20 kaki → 20 detik)
  • Batasi waktu layar non-belajar pada anak maksimal 1–2 jam/hari
  • Perbanyak aktivitas luar ruangan
  • Jaga jarak layar minimal 30–40 cm
  • Konsumsi makanan tinggi vitamin A, C, E, dan seng
  • Hindari gawai dalam kondisi gelap
  • Gunakan pelindung UV saat di luar ruangan

“Kesehatan mata adalah investasi jangka panjang. Orang tua perlu bijak mengawasi penggunaan gadget pada anak agar tidak menimbulkan dampak buruk di masa depan,” tutup dr. Yuliastini.

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Ads - Before Footer