Kaltaraa1. Com, Tarakan – Gangguan afektif bipolar merupakan gangguan suasana perasaan yang ditandai dengan perubahan mood secara ekstrem, mulai dari fase depresi hingga mania, yang dapat berlangsung selama satu minggu atau lebih. Kondisi ini berbeda dengan gangguan suasana hati (mood disorder) lainnya, seperti depresi, distimia, atau hipomania yang memiliki karakteristik perubahan perasaan dengan jenis dan intensitas beragam.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Rahmawati Nur Indah, Sp.KJ, dokter spesialis kejiwaan RSUD dr. H. Jusuf, SK. Ia menjelaskan bahwa gangguan afektif bipolar membutuhkan perhatian serta dukungan dari orang-orang terdekat pasien.
Menurutnya, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan terapi pasien. Mulai dari proses pengobatan, kontribusi terhadap pemicu stres, hingga bagaimana keluarga dapat memberikan penerimaan bahwa pasien tetap merupakan bagian yang disayangi dan dibutuhkan dalam lingkungan sosialnya.
“Kesadaran pasien dan keluarga untuk berobat menjadi kunci penting. Jika keluarga atau pasien merasa membutuhkan pertolongan profesional, segera konsultasikan ke psikiater atau psikolog klinis,” ujar dr. Rahmawati.
Lebih jauh ia menyebutkan, pasien kerap baru mendapatkan pertolongan medis ketika sudah memasuki kondisi yang berat. Misalnya, ketika fase mania berkembang tanpa disertai halusinasi tetapi sudah mengganggu fungsi sosial, atau ketika pasien mengalami depresi berat hingga muncul rasa putus asa dan keinginan melakukan bunuh diri.
Dalam perawatan, tantangan lainnya adalah kepatuhan pasien terhadap terapi obat. Banyak pasien menghentikan pengobatannya ketika merasa kondisi emosionalnya mulai membaik, padahal hal tersebut dapat memicu kekambuhan.
Dr. Rahmawati menegaskan pentingnya edukasi kepada keluarga dan pasien, agar pengobatan dilakukan secara berkesinambungan sesuai anjuran tenaga profesional kesehatan jiwa.





