Kaltaraa1. Com, TANJUNG SELOR – Memasuki puncak musim penghujan, persoalan sampah kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltara, Hairul Anwar, menegaskan bahwa tumpukan sampah di sungai maupun lingkungan permukiman dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari banjir hingga meningkatnya risiko penyakit berbasis lingkungan.
Menurut Hairul, pengelolaan sampah yang belum optimal di tingkat masyarakat masih menjadi tantangan besar. Selain menimbulkan bau tidak sedap, sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat menjadi tempat berkembangnya vektor penyakit, seperti nyamuk dan lalat. “Setiap tahun produksi sampah terus bertambah, sementara kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) sangat terbatas. Titik terang terhadap masalah ini belum sepenuhnya terlihat,” ujarnya Senin (1/12/2025).
Data DLH Kaltara menunjukkan, total produksi sampah di provinsi ini mencapai sekitar 146.768 ton per tahun, dengan komposisi 60 persen sampah organik dan 40 persen sampah anorganik. Sekitar 57 persen di antaranya berasal dari aktivitas rumah tangga. Kondisi ini membuat pengurangan sampah dari sumbernya menjadi langkah strategis yang harus diperkuat.
Hairul menjelaskan bahwa pengelolaan sampah anorganik di level rumah tangga merupakan upaya paling memungkinkan untuk menekan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan sementara (TPS). Upaya tersebut membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, komunitas pegiat lingkungan, masyarakat, hingga pelaku usaha dan industri. “Penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi semua pihak mutlak diperlukan,” tegasnya.
Salah satu pendekatan yang didorong DLH adalah gerakan budaya hidup 3R reduce, reuse, dan recycle. Kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja kain, menggunakan botol minum isi ulang, hingga memilah sampah di rumah dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten. “Terutama untuk sampah plastik. Jika prinsip 3R diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jumlah sampah yang terbuang bisa jauh berkurang,” kata Hairul.
Ia juga mendorong pemanfaatan ecobrick, yaitu botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik dan dapat dirangkai menjadi berbagai produk atau konstruksi sederhana. Langkah ini dinilai bukan sekadar upaya daur ulang, tetapi juga bentuk pengelolaan sampah langsung dari sumbernya sebelum mencapai TPA.
Dengan meningkatnya curah hujan dan potensi banjir, DLH Kaltara kembali mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. “Ini bukan hanya soal mengurangi sampah, tetapi tentang menjaga lingkungan tetap aman dan sehat bagi semua,” tutup Hairul. (Fhrl/Adv)





