Kaltara a1. Com, TANJUNG SELOR – Ada sejumlah reaksi kesehatan bagi warga ketika ditemukan adanya indikasi dampak lingkungan akibat pencemaran baik pada air, udara maupun sistem pencemaran lainnya.
Kepala DLH Kaltara, Hairul Anwar, melalui Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda, Petrus Maden Sima menjelaskan dampak yang dirasakan oleh masyarakat ketika terjadi adanya indikasi pencemaran yakni gatal-gatal pada bagian badan ketika yang dicemari air sungai.
“Iya ada sejumlah reaksi yang dirasakan. Misalnya kalau air sungai tercemar itu kan biasa gatal-gatal, atau biasa mereka juga, kalau yang paling berat itu misalnya kalau dia minum air sungai itu sudah ada kayak DBD kan,” sebutnya.
Dampak reaksi yang terjadi pada tahun 2024 lalu, itu ditemukan adanya warga yang melaporkan terkena gatal-gatal usai berenenang atau mengkonsumsi air. Kejadian itu, kata Petrus dari sungai Kayan.
“Iya, katanya yang saya dengar ini teman-teman di Sungai Kayan. Ada yang bergatal-gatal aja, tapi belum sampai muntah-muntah atau apa gitu,” ucapnya.
Tapi pihaknya belum terdeteksi sebab dari perusahaan mana yang melakukan pencemaran atau faktor lain yang mengakibatkan hal itu terjadi.
“Itu belum terdeteksi, karena di perusahaan ini kan artinya sudah kami adakan kajian kemarin sama Universitas Borneo Tarakan (UBT), tapi hasilnya belum keluar sampai saat ini,” tukasnya.
Pihaknya telah melakukan pengambilan sampel, cuman hasilnya masih menunggu perkembangan dari UBT.
“Kami sudah mengajukan kajian untuk sungai Kayan, apa penyebabnya. tujuan dari kajian itu untuk mengetahui penyebabnya misalnya kelebihan ekolikah atau faktor lain,” tutupnya.(*)





