AQMS di Pasar Induk Rusak, DLH Kaltara Harap Ada Anggaran Perbaikan di 2026

redaksi

Kaltara a1. Com, TANJUNG SELOR – Air Quality Monitoring System (AQMS) atau alat pemantau kualitas udara milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Utara yang berada di sekitar Pasar Induk, Kabupaten Bulungan, saat ini tidak berfungsi.

Tidak beroperasinya alat tersebut disebabkan karena kerusakan dan masih dalam tahap pemeliharaan (maintenance). Hingga kini, perbaikan belum bisa dilakukan karena keterbatasan anggaran.

Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kaltara, Petrus Maden Sima, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengajukan anggaran perbaikan sejak dua tahun terakhir, namun belum terealisasi.

Baca Juga  IGD RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Perkuat Standar Layanan Darurat bagi Pasien

“AQMS ini sedang maintenance. Kami sudah mengajukan anggaran perbaikan, tetapi selama dua tahun terakhir belum bisa direalisasikan karena keterbatasan anggaran,” ujarnya, baru-baru ini.

Menurut Petrus, jika perawatan dilakukan secara rutin setiap tahun, biaya yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Namun, karena alat sudah lama tidak diperbaiki, biaya yang dibutuhkan kini justru meningkat.

Baca Juga  Jambore Kader PKK Nunukan Ada Pemeriksaan Kesehatan Gratis

“Kalau perawatan rutin dilakukan setiap tahun, biayanya tidak mahal. Tapi karena sudah lama tidak diperbaiki, sekarang biaya perbaikannya bisa mencapai sekitar Rp200 juta,” jelasnya.

DLH Kaltara berharap pada tahun 2026 nanti tersedia anggaran khusus untuk perbaikan AQMS tersebut. Pasalnya, alat pemantau kualitas udara dinilai sangat penting untuk mendeteksi kondisi lingkungan dan potensi bencana akibat cuaca ekstrem.

Baca Juga  DORONG TRANSPARANSI, PERKUMPULAN LINGKAR HUTAN LESTARI (PLHL) AJAK MASYARAKAT AWASI BADAN PUBLIK

Petrus menambahkan, pengalaman bencana kabut asap dan kebakaran hutan di daerah lain menjadi pelajaran penting agar Kalimantan Utara memiliki sistem deteksi dini yang memadai.

“AQMS ini penting untuk memantau kualitas udara dan mendeteksi dini dampak cuaca. Jangan sampai Kaltara menjadi korban karena kurangnya alat pemantauan lingkungan,” pungkasnya. (adv/Erc)

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Ads - Before Footer