Perkuat Daya Saing Global, Pertanian Kaltara Siap Jadi Pilar Kedua Ekonomi Daerah

redaksi

Kaltara a1. Com, TANJUNG SELOR – Peran sektor pertanian di Kalimantan Utara (Kaltara) kian menonjol sebagai penopang penting perekonomian daerah. Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus memperkuat langkah strategis untuk mendorong pertanian menjadi motor pertumbuhan yang berkelanjutan, di tengah dominasi sektor pertambangan yang masih menduduki posisi teratas.

Dosen sekaligus Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Borneo Tarakan, Agus Tri Darmawanto, S.E., M.E., memaparkan data terbaru Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltara tahun 2024. Ia menyebutkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 14,78 persen terhadap perekonomian daerah, menempati posisi kedua setelah pertambangan dan penggalian.

“Kontribusi ini meningkat dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar 14,23 persen. Artinya, peran pertanian semakin kuat dalam struktur ekonomi daerah,” ujar Agus.

Pertanian Fondasi Perekonomian Berkelanjutan

Menurutnya, meski pertambangan masih mendominasi, pertanian justru menjadi sektor yang berpotensi memberikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang. Ia menilai bahwa penting bagi pemerintah daerah untuk memberi perhatian lebih serius agar pertanian tidak hanya menjadi penopang, tetapi juga penggerak utama pertumbuhan ekonomi masa depan.

Baca Juga  RSUD Dr. H. Jusuf SK Tarakan Dorong Pasien Lebih Tertib Gunakan Pendaftaran Online JKN

“Sektor pertanian perlu diarahkan untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional maupun global,” jelasnya.

Komoditas Unggulan Menanjak

Sejumlah komoditas kini menjadi andalan Kaltara. Kelapa sawit tetap menjadi primadona ekspor, terutama melalui produk Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya. Di samping itu, komoditas seperti kopi Malinau, kakao, dan lada juga menunjukkan potensi besar.

“Kopi Malinau sudah mulai dikenal karena cita rasa khasnya, sementara kakao dan lada berpeluang besar dikembangkan menjadi produk premium bernilai tinggi,” papar Agus.

Tantangan: Produktivitas, Infrastruktur, dan Hilirisasi

Meski memiliki potensi besar, Agus menegaskan bahwa sektor pertanian Kaltara masih dibelit sejumlah persoalan serius, mulai dari produktivitas yang rendah akibat penggunaan bibit yang belum optimal, minimnya teknologi, hingga lemahnya pengolahan pascapanen.

Baca Juga  Satpol PP Nunukan Monitoring Penegakan Perda Pengendalian Karhutla ke BPBD

“Sebagian besar komoditas unggulan masih dijual dalam bentuk bahan mentah, sehingga nilai tambahnya kecil,” tegasnya.

Keterbatasan infrastruktur juga menjadi hambatan signifikan. Ia menyebutkan bahwa jaringan irigasi, akses jalan pertanian, gudang, serta sarana transportasi belum sepenuhnya mendukung kebutuhan distribusi hasil panen.

“Distribusi menjadi tidak efisien dan biaya logistik pun meningkat,” tambahnya.

Perubahan iklim yang semakin ekstrem turut memberi tekanan pada stabilitas produksi pangan, membuat sektor pertanian semakin rentan.

Strategi Transformasi Pertanian Kaltara

Untuk keluar dari berbagai persoalan tersebut, Agus menyarankan strategi komprehensif yang mencakup:

  1. Pembangunan infrastruktur pertanian dan logistik agar rantai pasok lebih efisien.
  2. Peningkatan produktivitas melalui bibit unggul, pupuk ramah lingkungan, dan mekanisasi pertanian modern.
  3. Pelatihan dan pemberdayaan petani, terutama dalam manajemen usaha tani dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
  4. Penguatan riset dan inovasi agar produk lebih kompetitif di pasar global.
  5. Hilirisasi dan industrialisasi pertanian untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
  6. Penguatan branding produk unggulan seperti kopi, kakao, dan CPO olahan.
  7. Akses permodalan dan kemitraan melalui KUR, koperasi, dan kolaborasi dengan sektor swasta.
  8. Digitalisasi pertanian, terutama dalam pemasaran dan manajemen usaha.
  9. Pertanian berkelanjutan (green agriculture) untuk menjawab isu lingkungan, termasuk deforestasi pada sawit.
Baca Juga  DPRD Kaltara Gelar Uji Publik Raperda Perlindungan Tenaga Kerja Lokal, Sebelum ke Kemenkum HAM

“Produk pertanian Kaltara perlu didorong masuk pasar global melalui sertifikasi seperti organik atau fair trade. Ini penting untuk meningkatkan daya saing,” ujarnya.

Menuju Pilar Ekonomi Masa Depan

Lebih jauh, Agus menegaskan bahwa transformasi pertanian Kaltara dapat menjadi pilar utama diversifikasi ekonomi daerah. Dengan optimalisasi lahan, inovasi teknologi, dan dukungan kebijakan pemerintah, pertanian diyakini mampu membuka lapangan kerja baru, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Saya yakin, pertanian dapat menjadi basis ekonomi lokal yang tangguh dan menjadi fondasi utama dalam membawa Kaltara menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Fhrl/Adv)

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Ads - Before Footer