Transformasi Statistik Pertanian dan Sawit Jadi Kunci Swasembada Pangan Kaltara

redaksi

Kaltara a1. Com, TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara terus memperkuat fondasi ketahanan pangan melalui peningkatan kualitas data serta penyempurnaan metodologi statistik sektor pertanian. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan se-Kalimantan Utara yang digelar di Royal Hotel Tarakan, 7 Desember 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara, Mas’ud Rifai, SST., M.M., memaparkan transformasi signifikan dalam penyajian data tanaman pangan dan perkebunan, khususnya sawit, sebagai dasar percepatan swasembada pangan di wilayah perbatasan itu.

Akurasi Data Padi Diperkuat Standar SKGB 2018

Dalam pemaparan teknisnya, Mas’ud Rifai menyebut bahwa penghitungan produksi padi menggunakan standar konversi baku, yakni:
• Konversi GKP → GKG: 81,63
• Konversi GKG → Beras: 65,81.
“Konversi yang digunakan Kalimantan Utara telah mengacu pada Survei Konversi Gabah ke Beras (SKGB) 2018 sehingga akurasinya terjamin,” ujar Mas’ud Rifai, Jumat (6/12/2025).

Produksi padi dihitung melalui kombinasi Survei Kerangka Sampel Area (KSA) untuk menentukan luas panen bulanan dan Survei Ubinan setiap empat bulan untuk mengukur produktivitas. “Produksi diperoleh dari luas panen bersih dikalikan produktivitas per hektare,” jelasnya.

Baca Juga  Satpol-PP, Linmas dan Damkar Kaltara Matangkan Persiapan Jelang HUT

Produksi Jagung Mengacu SKJG2020

Estimasi produksi jagung dilakukan berdasarkan luas panen dan hasil ubinan per hektare, menggunakan dua standar kadar air:
• JPK–KA 28%
• JPK–KA 14%

BPS mengadopsi Survei Konversi Jagung 2020 (SKJG2020), dipadukan dengan citra satelit, untuk menggantikan metode eye estimate yang dinilai tidak lagi relevan.

Tantangan Nasional: Ketahanan Pangan hingga Regenerasi Petani

Mas’ud Rifai juga menyoroti tantangan besar sektor pangan nasional. Produksi padi nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 60,34 juta ton GKG, atau meningkat 13,55 persen dibanding 2024.

Namun sejumlah persoalan masih perlu mendapat perhatian, seperti:
• rendahnya adopsi teknologi pertanian,
• peningkatan kebutuhan pangan domestik,
• alih fungsi lahan,
• prevalensi stunting dan gizi buruk,
• dominasi skala usaha kecil,
• serta minimnya regenerasi petani akibat fenomena ageing farmers.

Temuan ST2023: Mayoritas Petani Kaltara Masih Tradisional

Hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan sebagian besar petani di Kalimantan Utara masih mengandalkan teknik tradisional. Sebanyak 14,30 persen Usaha Tanaman Pangan (UTP) mengusahakan padi ladang yang produktivitasnya lebih rendah dibanding padi sawah.

Baca Juga  TKD Menurun ke Daerah, Kadis DLH Kaltara Optimis Maksimal Kinerja 2026

Komoditas yang paling banyak diusahakan UTP Kaltara antara lain:
• Padi ladang (14,30%)
• Ubi kayu (10,19%)
• Padi sawah inbrida (9,23%)
• Padi hibrida (4,69%)
• Jagung manis (2,27%)
Di sektor perkebunan, kelapa sawit menjadi komoditas dominan dengan 22,20 persen UTP mengusahakannya. Sementara itu, 35,26 persen UTP menerima subsidi pupuk, atau sekitar 10,94 juta UTP secara nasional.

Program Makan Bergizi Gratis: 206 Ribu Sasaran di Kaltara

Dalam mendukung program nasional, BPS Kaltara mencatat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dua wilayah sasaran, yakni Kabupaten Nunukan dan Kota Tarakan.

Program ini menjangkau 206.153 penerima, terdiri atas:
• 177.756 siswa,
• 323 ibu hamil,
• 28.074 balita.

Kebutuhan pangan per porsi MBG meliputi beras, ayam, tempe, sayuran, buah, minyak goreng, hingga tepung terigu, yang dihitung berdasarkan harga dan volume konsumsi.

Ketergantungan Beras Masih 20 Persen

BPS mencatat tingkat ketergantungan Kalimantan Utara terhadap pasokan beras dari luar daerah masih mencapai 20,03 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan produksi lokal menuju swasembada beras.

Baca Juga  Bupati Irwan Sabri Sampaikan Nota Ranperda Perubahan tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Statistik Jagung dan Sawit: Pemantauan Satelit hingga Hilirisasi

Pada sektor jagung, metode pengamatan menggunakan simple random sampling, menghasilkan 21.965 segmen dan 87.860 titik amatan yang dipantau setiap bulan dengan koordinat terkunci.

Di sektor sawit, produktivitas pada 2024 tercatat:
• Perusahaan swasta: 3.014 kg/ha
• Perkebunan rakyat: 2.680 kg/ha

“Penguatan hilirisasi sawit menjadi kunci peningkatan nilai tambah ekonomi Kaltara,” kata Mas’ud Rifai.

Pada 2025, ekspor sawit Kaltara didominasi pasar Asia seperti Tiongkok, India, dan Filipina. Meski ekspor sawit nasional turun 16,55 persen pada 2024, Kaltara justru mencatat kenaikan nilai ekspor sebesar 470.185 USD.

Menuju Sensus Ekonomi 2026 dan Integrasi Satu Data Perkebunan

Di akhir paparannya, BPS Kaltara mengajak masyarakat mendukung Sensus Ekonomi 2026 sebagai upaya memperkuat landasan perencanaan pembangunan ekonomi nasional.

Data perkebunan terus diselaraskan melalui Satu Data Perkebunan, yang bersumber dari:
• BPS,
• Sensus Pertanian,
• Survei Perusahaan Perkebunan (SEDAPP Online),
• Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian,
• E-Statistikbun,
• serta sinkronisasi ATAP, ASEM, dan AESTI. (Fhrl/Adv)

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Ads - Before Footer