Waspadai GERD, Penyakit Asam Lambung yang Tak Boleh Dianggap Remeh

redaksi

Kaltaraa1.com, Tarakan – Refluks asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) kini semakin sering dijumpai di masyarakat. Banyak orang menganggapnya hanya sebagai keluhan biasa setelah makan, padahal jika terjadi berulang, kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi serius pada saluran cerna bagian atas.

Menurut dr. Anief Ferdianto, Sp.PD-KGEH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi RSUD dr. H. Jusuf SK, perbedaan utama antara refluks biasa dan GERD terletak pada frekuensi dan dampaknya terhadap kerongkongan.

“Refluks biasa bisa terjadi sesekali, misalnya setelah makan terlalu banyak atau langsung berbaring. Namun, bila refluks terjadi berulang dan menimbulkan gejala atau luka pada kerongkongan, itu sudah dikategorikan sebagai GERD,” jelasnya.

Baca Juga  Pejabat Pemkab Bulungan Dibekali Kemampuan Public Speaking

Lebih lanjut, dr. Anief menegaskan, jika keluhan panas di dada atau rasa asam di mulut muncul lebih dari dua kali dalam seminggu dan mulai mengganggu aktivitas, maka kondisi tersebut patut dicurigai sebagai GERD.

Salah satu penyebab utama melemahnya sfingter kerongkongan bawah—katup yang berfungsi menahan asam lambung agar tidak naik—adalah kebiasaan makan berlebihan, obesitas, merokok, serta konsumsi kopi, alkohol, atau obat-obatan tertentu.

Selain itu, kondisi hernia hiatus juga dapat memicu refluks. “Pada hernia hiatus, sebagian lambung terdorong ke atas melalui diafragma sehingga posisi sfingter berubah dan tidak menutup rapat,” terang dr. Anief.

Baca Juga  Pansus LKPJ DPRD Provinsi Monev Asrama Mahasiswa Kaltara di Malang

Selain rasa panas di dada (heartburn), penderita GERD juga bisa mengalami batuk kronis, suara serak, rasa asam atau pahit di mulut, mual, hingga nyeri dada non-jantung.

Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kelebihan berat badan, makan malam terlalu larut, kurang tidur, stres, serta kebiasaan mengonsumsi kopi atau alkohol, turut memperparah kondisi ini.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya melakukan wawancara gejala, uji terapi dengan obat penekan asam, atau pemeriksaan endoskopi guna melihat kondisi kerongkongan secara langsung.Adapun langkah sederhana untuk mencegah asam lambung naik antara lain makan dalam porsi kecil namun sering, tidak berbaring setelah makan, tidur dengan posisi kepala lebih tinggi, dan menjaga berat badan ideal.

Baca Juga  Optimis Zero Pelanggaran Pilkada 2024, Bawaslu Gandeng Unsur Masyarakat

dr. Anief juga mengingatkan agar masyarakat menghindari makanan pemicu, seperti gorengan, makanan berlemak, pedas, cokelat, kopi, soda, dan alkohol, serta menjauhi kebiasaan merokok dan makan larut malam.

Jika tidak ditangani dengan baik, GERD dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari luka pada dinding kerongkongan, penyempitan, hingga perubahan sel pra-kanker yang dikenal sebagai Barrett’s esophagus.

“GERD bisa dikendalikan. Kuncinya menjaga pola makan, berat badan, dan tidak menunda periksa bila keluhan berlangsung lama,” tutup dr. Anief.

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Ads - Before Footer