Kaltara a1. Com, MALINAU — Puluhan petani di Desa Tanjung Lapang, Kecamatan Malinau Barat, Kabupaten Malinau, kini tak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia sintetis.
Sebanyak 60 petani dari tiga kelompok tani yakni Rurum Pa Saro, Pun Barang Turun, dan Setia Kawan mengikuti pelatihan intensif pembuatan pupuk organik cair dan padat secara mandiri yang diinisiasi oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (3/11/2026).
Langkah ini menjadi strategi krusial pemerintah daerah untuk memperkuat kemandirian dan kapasitas produksi petani lokal di tengah melambungnya harga serta terbatasnya akses pupuk pabrikan. Melalui pelatihan ini, para peserta dibekali teknik mengolah bahan-bahan alami yang selama ini terbuang di lingkungan sekitar menjadi nutrisi tanaman yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Pelatihan praktis tersebut menghadirkan para pemateri kompeten di bidangnya untuk memberikan pembekalan pengolahan limbah secara menyeluruh:
”Pelatihan ini dirancang untuk menjawab tantangan di tingkat petani sekaligus mendorong kemandirian pangan secara berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang ada,” ujar Penanggung Jawab Kegiatan dari Bidang Penyuluhan DPKP Provinsi Kalimantan Utara.
”Kami mengarahkan para petani agar bisa mengolah limbah sisa sayuran di sekitar mereka menjadi Pupuk Organik Cair (POC) bernilai tinggi untuk menyuburkan tanaman tanpa biaya besar,” jelas Dr. Nurbaya, S.Si., MP dari DPKP Provinsi Kalimantan Utara.
”Dengan mempraktikkan langsung cara mengolah kotoran hewan ternak menjadi pupuk padat, kelompok tani diharapkan mampu memproduksinya secara mandiri dan siap pakai untuk kebutuhan lahan pertanian mereka,” tegas Ribut Budiyono, S.ST selaku Penyuluh Pertanian Ahli Madya Kabupaten Malinau.
Selain memangkas ketergantungan pada pupuk kimia, kegiatan yang dihadiri oleh Bripda Julius Thomas, S.Tr.P dari Polda Kaltara juga selaku pemateri, Mikadinata selaku perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, warga setempat, serta para penyuluh pertanian Malinau Barat ini diharapkan mampu memicu sistem pertanian berkelanjutan, sehat, dan meningkatkan produktivitas hasil panen masyarakat Tanjung Lapang secara signifikan.





