Kaltaraa1.com, Tarakan – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Jusuf, SK terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan terbaik bagi pasien dengan HIV/AIDS. Penanganan dilakukan secara komprehensif dan terpadu, melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas dokter penyakit dalam, perawat terlatih, tenaga farmasi, serta konselor HIV.
Layanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengobatan medis, tetapi juga mencakup aspek psikologis dan sosial. Pendekatan dilakukan melalui pemeriksaan diagnostik dan evaluasi klinis rutin, pemberian terapi antiretroviral (ARV) sesuai pedoman nasional, konseling kepatuhan pengobatan, skrining infeksi oportunistik, serta edukasi mengenai pencegahan penularan.
Dalam satu tahun terakhir, tercatat sekitar 140 hingga 160 pasien aktif HIV/AIDS yang mendapatkan pelayanan di rumah sakit tersebut. Data ini mencakup pasien baru maupun pasien lama yang rutin menjalani kontrol di Poliklinik PDP (Pelayanan Dukungan dan Pengobatan).
Meski capaian penanganan HIV/AIDS di RSUD dr. H. Jusuf, SK terus menunjukkan perkembangan positif, sejumlah tantangan masih dihadapi tenaga medis. Menurut dokter spesialis penyakit dalam Dr. Zainal Abidin, Sp.PD, tantangan terbesar terletak pada kepatuhan pasien dalam menjalani terapi ARV serta stigma sosial yang masih melekat di masyarakat.
“Kepatuhan pasien terhadap terapi ARV menjadi kunci utama keberhasilan pengobatan. Syukurlah, selama beberapa tahun terakhir tingkat kepatuhan pasien kami sangat baik, yang tentu membuat kami bahagia dan semakin bersemangat untuk saling mendukung,” ujar Dr. Zainal Abidin, Sp.PD saat ditemui di RSUD dr. H. Jusuf, SK.
Selain itu, lanjutnya, masih terdapat keterbatasan sumber daya manusia yang benar-benar terlatih dalam menangani kasus HIV/AIDS, serta koordinasi rujukan antar-fasilitas kesehatan yang perlu terus diperkuat agar pelayanan bisa lebih optimal.
Terkait ketersediaan obat antiretroviral (ARV), RSUD dr. H. Jusuf, SK memastikan bahwa pasokan obat umumnya tersedia secara memadai. Distribusi dilakukan melalui program nasional HIV/AIDS dari Kementerian Kesehatan RI. Namun, sesekali terjadi keterlambatan pasokan untuk regimen tertentu.
“Jika terjadi keterlambatan, kami melakukan substitusi obat sementara sesuai protokol klinis agar terapi pasien tidak terhenti,” jelas Dr. Zainal.
Pihak rumah sakit juga menegaskan bahwa kerahasiaan data pasien dijaga dengan sangat ketat. Rekam medis hanya dapat diakses oleh tenaga medis yang berwenang, sementara data pasien disimpan dalam sistem elektronik dan manual yang aman. Identitas pasien pun tidak akan dibuka kepada pihak mana pun tanpa izin tertulis dari yang bersangkutan.
“Kerahasiaan adalah prinsip utama kami. Selain melindungi hak pasien, ini juga penting untuk menjaga rasa aman dan kepercayaan mereka terhadap sistem layanan,” tambahnya.
Adapun terkait kendala anggaran, Dr. Zainal menjelaskan bahwa pengadaan obat ARV bukan berasal dari dana rumah sakit, melainkan dari program pemerintah pusat. Kendala yang sesekali muncul biasanya berkaitan dengan logistik dan distribusi dari gudang farmasi provinsi, yang bisa memengaruhi jadwal kontrol pasien.
“Kami terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan pihak terkait agar distribusi obat tetap lancar. Harapan kami, semua pasien dapat terus menjalani pengobatan tanpa gangguan,” pungkas Dr. Zainal Abidin, Sp.PD.
Dengan pendekatan menyeluruh dan komitmen terhadap pelayanan yang berkesinambungan, RSUD dr. H. Jusuf, SK berupaya tidak hanya menjadi tempat pengobatan, tetapi juga ruang dukungan dan harapan bagi pasien HIV/AIDS di wilayahnya.





