Rinosinusitis Berkelanjutan Ancam Kualitas Hidup Anak hingga Lansia

redaksi

Kaltaraa1. Com, TARAKAN – Rinosinusitis yang berlangsung dalam jangka panjang baik karena alergi maupun infeksi, dapat menimbulkan dampak serius bagi semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia (lansia). Kondisi ini bukan hanya menyebabkan gangguan pernapasan, tetapi juga komplikasi lanjutan yang bisa mengancam kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Hal tersebut disampaikan oleh dr. Priyanto, Sp.T.H.T.B.K.L, Staf Medis THT-BKL RSUD H. Jusuf SK, ketika menjelaskan risiko kesehatan yang ditimbulkan akibat rinosinusitis berkepanjangan. Ia mengatakan, pada anak-anak, gangguan yang terjadi pada sinus dapat menghambat tumbuh kembang karena memengaruhi kualitas tidur.

“Akibat hidung tersumbat dan mengi (ngorok), kualitas tidur anak terganggu. Ini menyebabkan tubuh rentan mengalami infeksi saluran napas atas, termasuk sinus. Jika berkelanjutan, bisa menjalar ke telinga tengah, mata, tulang wajah (osteomielitis), bahkan otak dan paru-paru hingga menyebabkan pneumonia,” jelasnya.

Baca Juga  Wagub Ingkong Dorong Percepatan Swasembada Pangan

Sementara pada orang dewasa terutama lansia, risiko komplikasi akan lebih mudah terjadi karena daya tahan tubuh yang menurun. Infeksi dapat meluas ke organ sekitar sinus seperti bola mata, tulang wajah, hingga otak, serta memicu pneumonia.

Rinosinusitis juga berdampak pada menurunnya kemampuan penciuman. Gangguan menghidu membuat penderitanya kehilangan sensasi rasa makanan dan minuman, bahkan berpotensi tidak menyadari bau berbahaya seperti kebocoran gas.

Pengobatan Disesuaikan Penyebab, Menurut dr. Priyanto, tata laksana rinosinusitis harus disesuaikan dengan faktor pemicunya. Pada pasien dengan alergi, upaya utama adalah menghindari pencetus alergi yang dapat memicu reaksi pada rongga hidung dan sinus. Pengobatan tambahan seperti obat antialergi dan prosedur cuci hidung juga diperlukan untuk meredakan gejala.

Baca Juga  Ultimatum Warga Tarakan ke PT PRI: Harga Lahan Naik 100%-Akses Ditutup Lagi

Sementara pada rinosinusitis akibat infeksi, dokter akan menyesuaikan terapi berdasarkan penyebabnya, apakah virus, bakteri, atau jamur.

“Penyebab infeksi harus ditangani secara menyeluruh. Misalnya bila berasal dari infeksi gigi atas yang rusak, maka pasien perlu menjalani perawatan gigi dengan dokter gigi,” ujarnya.

Pada rinosinusitis akut, umumnya pengobatan berupa cuci hidung dan obat-obatan dapat memberikan hasil optimal. Namun untuk kasus kronis, pemeriksaan penunjang seperti CT-scan sinus perlu dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya komplikasi.

Apabila dari hasil CT-scan tampak gangguan yang memerlukan tindakan lebih lanjut, operasi sinus dapat menjadi pilihan terapi.

Baca Juga  Pansus LKPj Gubernur Kaltara Lakukan Monev Kegiatan Pembangunan, Sejumlah Temuan jadi Atensi

Segera ke Dokter Spesialis bila Tak Kunjung Membaik. dr. Priyanto menegaskan, pasien perlu segera dirujuk ke dokter spesialis THT apabila pengobatan maksimal dari fasilitas kesehatan tingkat pertama tidak menunjukkan perbaikan atau bila ditemukan komplikasi yang membutuhkan penanganan spesialis.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat menghindari paparan substansi iritan seperti asap rokok, polusi, dan bahan kimia yang dihirup.

“Semua iritan yang masuk ke hidung dapat mengganggu sistem pertahanan rongga hidung dan sinus. Akibatnya, risiko terkena rinosinusitis akan lebih tinggi,” tuturnya.

Dengan penanganan yang tepat dan kesadaran untuk menghindari faktor risiko, komplikasi rinosinusitis dapat dicegah dan kualitas hidup pasien tetap terjaga.

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Ads - Before Footer