Ziarah Makam Sultan Tanjung Palas, Warisan Budaya yang Terus Dihidupkan di Bulungan

redaksi

Kaltaraa1.com, TANJUNG SELOR –Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Kabupaten Bulungan dan HUT ke-235 Kota Tanjung Selor yang jatuh pada 12 Oktober mendatang, Ziarah makam sultan menjadi salah satu agenda rutin atau tradisi yang sarat makna dan sejarah yang terus dilestarikan oleh pemerintah daerah (Pemda).

Melakukan ziarah ke makam Sultan Maulana Muhammad Kasimuddin di Tanjung Palas, menjadi salah satu tradisi yang terus dilakukan dimana bukan sekadar acara seremonial, namun ziarah tersebut adalah simbol penghormatan, pengingat sejarah, dan bentuk cinta terhadap warisan budaya yang telah membentuk jati diri masyarakat Bulungan selama berabad-abad.

Baca Juga  Anggota DPRD Kaltara Menerima Silaturahmi Kepala Kejati

Rangkaian ziarah dimulai dengan menyebrangi Sungai Kayan menggunakan biduk bebandung, perahu tradisional yang dahulu digunakan oleh para Sultan untuk menyambut tamu kehormatan dan sebagai bentuk pelestarian budaya dan penghargaan terhadap kearifan lokal.

“Dulu, biduk bebandung adalah simbol kehormatan. Hari ini, kita menggunakannya untuk menghormati para pendahulu yang telah berjuang membangun Bulungan,” ujar Bupati Bulungan, Syarwani, di sela kegiatan.

Baca Juga  Wujudkan Pemerintahan Bersih, Kemenag Bulungan Deklarasikan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM

Setibanya di kompleks makam, rombongan yang terdiri dari jajaran OPD dan Forkopimda, dengan khidmat memanjatkan doa dan membaca surat Al-Fatihah di pusara Sultan dan para pejabat terdahulu.

Bupati Syarwani menyampaikan bahwa ziarah ini menjadi pengingat penting bagi generasi sekarang untuk melanjutkan cita-cita besar para pendiri Bulungan.

“Ini bukan hanya soal mengenang, tapi juga soal tanggung jawab. Kita doakan mereka, dan sekaligus bertekad melanjutkan perjuangan yang telah mereka mulai,” tutur Syarwani penuh haru.

Baca Juga  Survei Kepuasan Masyarakat, Layanan Dinsos Kaltara Mendapat Predikat Baik

Bupati menegaskan, tradisi ziarah ini akan terus dijaga dan dilestarikan, karena ia bukan hanya bagian dari sejarah, melainkan juga jembatan emosional yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Bulungan.

“Kita ingin anak cucu kita kelak tahu bahwa Bulungan dibangun bukan dengan instan. Ada darah, keringat, dan pengorbanan dari para pemimpin terdahulu. Dan kita punya tugas untuk meneruskan warisan ini,” tutupnya.(Erc)

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Ads - Before Footer