Kaltaraa1. Com, Tarakan – Stroke masih menjadi salah satu penyebab kecacatan dan kematian tertinggi di Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat diimbau mengenali gejala awal dan melakukan penanganan cepat agar peluang pemulihan pasien semakin besar.
Dokter Spesialis Neurologi RSUD dr. H. Jusuf, SK, dr. Septian Widyantoro, Sp.N, menjelaskan bahwa gejala awal stroke dapat dikenali melalui singkatan SEGERA KE RS.
“Gejala tersebut meliputi senyum tidak simetris, gerak separuh anggota tubuh melemah, bicara pelo, kebas atau kesemutan separuh tubuh, rabun atau pandangan kabur, serta sakit kepala hebat yang muncul secara mendadak,” ungkapnya.
Menurut dr. Septian, perbedaan utama stroke dengan gangguan kesehatan lainnya adalah kemunculan gejala yang sangat tiba-tiba.
“Jika gejala ini muncul, jangan menunggu hingga membaik sendiri, karena dalam hitungan menit sel otak bisa rusak permanen,” jelasnya.
Waktu Emas Penanganan Stroke
Pada fase “waktu emas” atau kurang dari atau sama dengan 4,5 jam sejak gejala pertama muncul, pasien stroke memiliki peluang pemulihan paling tinggi melalui terapi trombolitik.
“Terapi ini dapat membuka sumbatan aliran darah ke otak sehingga kerusakan bisa diminimalkan,” terang dr. Septian.
Ia menegaskan, tindakan pertama yang harus dilakukan saat mendapati orang dengan gejala stroke ialah segera membawa ke rumah sakit terdekat.
“Pastikan pasien dalam posisi nyaman dan jangan memberikan makanan, minuman, atau obat apa pun tanpa anjuran dokter,” pesannya.
Pentingnya penanganan dalam waktu emas ini meliputi:
• Mengurangi kerusakan otak akibat kekurangan oksigen dan nutrisi.
• Meningkatkan peluang pemulihan dan mencegah kerusakan permanen.
• Menurunkan risiko kecacatan jangka panjang.
Faktor Risiko Stroke di Indonesia
dr. Septian turut memaparkan sejumlah faktor risiko utama yang banyak ditemui di masyarakat, yaitu:
• Hipertensi, sebagai faktor risiko dominan pada berbagai jenis stroke.
• Diabetes, terutama jika disertai kolesterol tinggi.
• Kebiasaan merokok, baik aktif maupun pasif.
• Kurang aktivitas fisik, yang memperburuk tekanan pada pembuluh darah.
• Pola makan tidak sehat, seperti konsumsi tinggi garam, lemak jenuh, dan gula.
Pencegahan Melalui Gaya Hidup Sehat
Masyarakat diimbau menerapkan pola hidup sehat dengan konsep 3O + 1D (Olah raga, Olah seni, Olah jiwa, dan Diet) serta prinsip CERDIK:
• Cek kesehatan secara berkala
• Enyahkan asap rokok
• Rajin aktivitas fisik
• Diet seimbang
• Istirahat cukup
• Kelola stres dengan baik
“Pencegahan jauh lebih baik daripada mengobati. Dengan gaya hidup sehat dan deteksi dini, risiko stroke dapat ditekan secara signifikan,” tutup dr. Septian.





