Pembatalan POPDA Imbas Batalnya POPNAS Picu Kekecewaan Atlet Kaltara, Peluang Generasi Emas Terancam Hilang

redaksi

Kaltara A1. Com, Malinau – Pembatalan pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) yang merujuk pada batalnya penyelenggaraan POPNAS memicu kekecewaan mendalam di kalangan pelatih dan atlet di Kalimantan Utara. Keputusan tersebut dinilai sangat disayangkan lantaran seluruh tahapan persiapan telah dilakukan sejak jauh hari, mulai dari proses seleksi atlet hingga pemusatan latihan atau training center (TC). Para atlet yang selama berbulan-bulan menjalani latihan intensif kini harus menerima kenyataan pahit setelah peluang tampil di ajang olahraga pelajar bergengsi itu terancam gagal terlaksana.

Kondisi tersebut semakin berat dirasakan atlet yang berasal dari wilayah pelosok. Sejumlah atlet diketahui harus menempuh perjalanan jauh dari daerah seperti Mansalong dan Sebuku menuju Nunukan demi mengikuti seleksi serta rangkaian latihan. Tidak sedikit pula atlet dan orang tua yang rela mengeluarkan biaya pribadi untuk kebutuhan transportasi, penginapan, hingga konsumsi selama masa persiapan. Pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya yang telah dicurahkan kini terasa seolah sia-sia setelah muncul keputusan pembatalan agenda olahraga pelajar tersebut.

Baca Juga  Perangi Tambang Ilegal, Gubernur Kaltara Keluarkan Edaran Penggunaan Material Resmi

Pelatih bola voli bersertifikat Level 1 FIVB yang telah berkecimpung di dunia kepelatihan selama 17 tahun, Mexail, mengaku prihatin terhadap kondisi yang dialami para atlet muda. Menurutnya, para atlet telah menunjukkan semangat, disiplin, dan dedikasi tinggi selama menjalani latihan demi membawa nama daerah di tingkat nasional.

“Anak-anak sudah berlatih keras dan banyak yang berkorban untuk bisa mengikuti POPDA. Ada yang datang dari daerah jauh dengan biaya sendiri. Tentu ini menjadi pukulan berat bagi mereka karena kesempatan bertanding di tingkat nasional belum tentu datang dua kali,” ujar Mexail saat dimintai tanggapan, Senin (18/5/2026).

Baca Juga  Curi Barang di Kendaraan saat Korbannya Lagi Joging

Ia menilai pembatalan POPDA tidak hanya berdampak pada mental atlet, tetapi juga berpotensi menghambat proses pembinaan olahraga usia muda di daerah. Terlebih, berdasarkan regulasi yang berlaku, peserta POPDA merupakan atlet kelahiran tahun 2009. Apabila pelaksanaan tahun ini batal sepenuhnya, sebagian atlet dipastikan tidak lagi memenuhi syarat usia untuk tampil pada POPDA berikutnya pada 2028 mendatang.

“Banyak atlet yang saat ini sedang berada dalam masa emas perkembangan prestasi. Jika kesempatan ini hilang, mereka bisa kehilangan momentum untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan di level yang lebih tinggi,” tambahnya.

Baca Juga  OPD diminta Optimalisasi Kinerja

Sebagai langkah alternatif, para pelatih mulai mengusulkan sejumlah solusi agar semangat atlet tetap terjaga. Salah satunya dengan menggelar open turnamen antarpelajar di tingkat daerah sebagai wadah kompetisi pengganti. Selain itu, muncul pula usulan untuk mengikutsertakan atlet ke daerah lain yang masih menggelar POPDA atau mengarahkan mereka mengikuti ajang Popprov maupun kejuaraan lainnya sepanjang tahun ini.

Para pelatih berharap pemerintah dan pihak terkait segera menghadirkan kebijakan pengganti yang konkret demi menjaga motivasi para atlet pelajar. Mereka menilai situasi tersebut harus dianggap sebagai kendala sementara yang masih dapat diatasi melalui langkah cepat dan strategis. Harapan terbesar pun tertuju pada hadirnya solusi terbaik agar perjuangan, latihan, dan pengorbanan para atlet muda tidak berakhir sia-sia.

Bagikan:

Ads - After Post Image

Topik

Ads - Before Footer