Kaltaraa1.com , Tarakan – Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter masih menjadi kebiasaan sebagian masyarakat. Padahal, tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan, termasuk resistensi bakteri serta gangguan pada fungsi organ tubuh.
Dokter Spesialis Paru yang juga Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antibiotik RSUD dr. H. Jusuf, SK, Dr. Nila Kartika Ratna, SpP, FISR, menegaskan bahwa konsumsi antibiotik harus berdasarkan indikasi medis yang tepat.
“Pemakaian antibiotik tanpa resep dokter dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya resistensi terhadap antibiotik. Selain itu, penggunaan yang tidak sesuai aturan pakai juga dapat meningkatkan risiko kerusakan organ ginjal atau liver,” ujarnya, Kamis (30/10/2025).
Menurutnya, resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berubah dan tidak lagi merespons obat yang sebelumnya efektif untuk mengatasinya. Kondisi ini dapat mengakibatkan infeksi menjadi lebih sulit disembuhkan dan meningkatkan risiko komplikasi.
“Konsumsi antibiotik yang tidak sesuai dengan indikasi penyakit dapat meningkatkan angka resistensi bakteri di masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, tenaga kesehatan di rumah sakit terus melakukan upaya edukasi untuk mencegah penggunaan obat yang tidak tepat.
“Edukasi mengenai penggunaan obat dilakukan setiap saat kepada pasien yang berobat oleh dokter, apoteker, dan perawat. Tim promosi kesehatan rumah sakit juga rutin memberikan penyuluhan kepada pengunjung yang menemani pasien di poliklinik,” jelas Dr. Nila.
Lebih jauh, ia berpesan agar masyarakat tidak sembarangan menghentikan atau memperpanjang waktu minum antibiotik tanpa arahan tenaga medis.
“Dosis dan durasi antibiotik yang tidak sesuai dapat menurunkan angka kesembuhan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya resistensi,” pungkasnya.





